Bandit Berdasi

Tuhan, akankah bandit berdasi itu sedang tertawa disana?

Lihatlah bandit-bandit itu,
Mengulum senyum penuh keyakinan,
Memoles bibir nya dengan rangkaian negosiasi yang cerdik.

Tuhan, lihatlah bandit-bandit itu,
Menyenderkan punggung nya yang dibalut dengan jas formal superior diatas kursi kekuasaan yang megah.
Mereka bersulang, menyepakati suatu hal yang mengorbankan nyawa ribuan orang-orang yang sekiranya mereka anggap tidak berharga.
Mereka menghancurkan lahirnya sebuah harapan, perihnya sebuah perjuangan, dan bahkan mengorbankan nyawa negara ku sendiri hanya untuk deretan nominal pemuas alat kebutuhan.

Lihatlah bandit-bandit itu, Tuhan.
Apa yang membuat mereka sekejam itu?
Kukira, tujuan mereka adalah untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Namun, apa yang kami dapat selain diperlakukan seperti seonggok sampah limbah?

Bandit-bandit itu mengabaikan semua air mata kami,
semua keluhan mengenai perihnya ketidakadilan ini,
bahkan semua jantung yang kami punya mungkin terlihat seperti nyawa yang tak lagi abadi.
Kami semua diabaikan, lalu dikremasi dengan balutan tawa kejam; yang memiliki intonasi membual paling memuakkan.




Yogyakarta, Februari 2018.

Komentar

Postingan Populer